Pantauterkini - Guru Honor Madrasah Swasta dari berbagai daerah di
Indonesia menyatakan siap akan menggelar Aksi Nasional pada Rabu, 11 Februari
2026, di Jakarta, aksi akan dipusatkan di Gedung DPR RI, dilanjutkan dengan
agenda audiensi ke Istana Negara dan Kementerian Agama.
“Ribuan guru dari berbagai provinsi dipastikan terlibat, dari Jawa Barat jumlah peserta diperkirakan mencapai ribuan orang. Kota/Kabupaten Tasikmalaya dua wilayah ini merupakan mobilisasi terbesar, masing-masing sekitar 560 dan 600 peserta. Sementara Kota Depok diperkirakan mengirim 500 guru, disusul Kabupaten Cianjur, Bandung Barat, Purwakarta, Kabupaten Cirebon, Garut, serta sejumlah daerah lainnya.
Berdasarkan data yang
ada, selain Jawa Barat, peserta juga berasal dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur,
serta berbagai daerah diluar Pulau Jawa.”demikian disampaikan Ketua Umum DPW
PGM Indonesia Provinsi Jawa Barat Hasbullah kepada wartawan. (10/2/2026).
Lebih lanjut ia mengatakan, “Aksi ini dipicu
pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Sekjen Kemenag) Prof. Dr.
Phil. Kamaruddin Amin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VIII DPR
RI, Rabu (28/1/2026), yang dinilai mencederai martabat guru madrasah swasta.
Dalam RDP tersebut, Kamaruddin Amin
menyampaikan pernyataan yang memantik reaksi keras dari kalangan pendidik.
“Banyak guru-guru yang diangkat oleh yayasan
tanpa sepengetahuan Kemenag, kemudian minta dibayar, dan jumlahnya terus
bertambah dan bertambah, tanpa ada koordinasi dengan Kemenag,” ujar Kamaruddin
Amin di DPR RI (28/1/2026)
Pernyataan itu dinilai Persatuan Guru Madrasah
(PGM) Indonesia tidak sekadar persoalan diksi, tetapi mencerminkan cara pandang
negara terhadap eksistensi guru madrasah swasta.”terangnya
Hasbulloh, menegaskan bahwa guru madrasah swasta selama ini
justru menjadi tulang punggung pendidikan madrasah di Indonesia.
“Negara hadir melalui regulasi dan sistem
pendataan, tetapi belum sepenuhnya hadir melalui jaminan kesejahteraan dan
kepastian status,” tegasnya
Ia menambahkan, pernyataan pejabat negara di
ruang publik tidak dapat dipandang sebagai opini pribadi semata.
“Bagi guru madrasah swasta, pernyataan pejabat
negara bukan hanya pendapat personal, melainkan sikap institusional yang
berdampak langsung terhadap psikologis dan martabat profesi,” tegasnya.
Data nasional mencatat, dari sekitar 796.700
guru madrasah di Indonesia, lebih dari 484.678 orang atau sekitar 61 persen
belum tersertifikasi, dan mayoritas merupakan guru non-ASN di madrasah swasta.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan
guru madrasah swasta bukan sekadar dampak lemahnya koordinasi, melainkan
masalah struktural yang telah berlangsung lama.
Menurut Hasbulloh, klarifikasi dan permintaan
maaf Sekjen Kemenag pada 1 Februari 2026 memang penting, tetapi belum cukup
meredakan kegelisahan kolektif para guru.
“Klarifikasi tidak serta-merta menghapus
kecemasan para guru yang setiap hari mengajar dengan insentif minim dan masa
depan yang tidak pasti,” ujarnya.
Humas dan Negosiasi Aksi Nasional PGM
Indonesia, Irfan Widia Rahmat, menegaskan bahwa aksi ini merupakan ikhtiar
konstitusional untuk menagih tanggung jawab negara.
“Negara harus memiliki good will yang kuat dan
menyadari pentingnya peran guru madrasah swasta. Lebih dari 95 persen RA dan
madrasah dikelola oleh masyarakat. Ini fakta yang tidak boleh diabaikan,” kata
Irfan.
Ia menegaskan, aksi ini bukan sekadar unjuk
rasa, melainkan suara kegelisahan kolektif para guru yang selama ini mengabdi
dalam keterbatasan.
“Kami menuntut keadilan, pengakuan, dan
kepastian masa depan bagi guru madrasah swasta,” pungkasnya.
Editor :
Usep





0 Komentar