Walikota Depok Supian suri ketika membuka Festival Perahu Naga di Setu Rawa Kalong Minggu (09/08/2026).
Depok, Pantau Terkini.com— Riuh suara aba-aba berpadu dengan hentakan dayung yang serempak membelah permukaan air Situ Rawa Kalong, Cimanggis, Kota Depok, Minggu (9/8/2026). Puluhan atlet dari berbagai daerah datang bukan sekadar untuk berlomba, tetapi juga membawa semangat olahraga, persahabatan, dan upaya menghidupkan kembali potensi situ sebagai ruang publik.
Festival Perahu Naga 2026 tahun ini terasa berbeda. Sebanyak 26 tim dari enam provinsi ambil bagian dalam kompetisi yang sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kehadiran peserta dari luar Jawa Barat menunjukkan Festival Perahu Naga Depok mulai berkembang melampaui batas kompetisi olahraga tingkat lokal. Situ Rawa Kalong menjadi titik temu para atlet dayung sekaligus ruang promosi potensi wisata air Kota Depok.
Wali Kota Depok Supian Suri mengatakan, keterlibatan enam provinsi menjadi bukti semakin besarnya daya tarik festival tersebut bagi komunitas olahraga dayung.
"Yang ikut partisipasi dari enam provinsi, 26 tim. Mudah-mudahan ini menjadi bagian dari ikhtiar kita, menyemarakkan HUT RI yang ke-81, juga membuat situ kita terus terawat dengan kegiatan seperti ini," ujar Supian Suri.
Bagi Pemerintah Kota Depok, festival tersebut tidak berhenti pada urusan menang dan kalah. Kompetisi juga diarahkan menjadi sarana pembinaan atlet muda sekaligus mengoptimalkan keberadaan situ sebagai ruang olahraga dan destinasi wisata.
Menurut Supian, semakin banyaknya atlet yang mengikuti kompetisi akan memberikan pengalaman bertanding yang lebih kompetitif bagi para atlet Depok. Pengalaman itu diharapkan menjadi bekal menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat.
"Bagaimana potensi anak-anak muda, khususnya pecinta dayung bisa terlayani dengan kegiatan seperti ini. Mereka berlomba, mereka berlatih, dan pastinya mereka akan bawa nama baik Kota Depok nantinya pada Porprov Jawa Barat. Ini salah satu persiapan Porprov kita," katanya.
Festival Perahu Naga Depok bukanlah kegiatan baru. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Eko Herwiyanto, mengatakan festival tersebut pertama kali digelar pada 2015 dan tahun ini memasuki penyelenggaraan yang kesembilan.
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai melalui festival tersebut, yakni meningkatkan prestasi atlet dayung, memperkenalkan olahraga dayung kepada masyarakat, serta mempromosikan situ sebagai destinasi wisata di Kota Depok.
"Konsepnya adalah support turisme, menggabungkan antara olahraga dengan pariwisata. Mudah-mudahan juga berdampak kepada pergerakan ekonomi lokal UMKM," kata Eko.
Sebanyak 26 tim dari enam provinsi mengikuti perlombaan dengan total hadiah mencapai Rp40,5 juta. Peserta berasal dari tim Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) maupun klub-klub dayung.
Sejumlah nomor diperlombakan, di antaranya open 200 meter 12 kru putra, open 200 meter 12 kru putri, serta stand up paddle 200 meter putra.
Namun, di balik kemeriahan perlombaan, pemilihan Situ Rawa Kalong sebagai lokasi festival juga menyimpan cerita tentang persoalan lingkungan dan keberadaan situ-situ di Kota Depok.
Sebelumnya, lomba perahu naga direncanakan berlangsung di Situ Rawa Besar, Kelurahan Depok. Namun, rencana tersebut akhirnya berubah sehingga penyelenggaraan dipindahkan ke Situ Rawa Kalong.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok Hajah Yeti Wulandari
Wakil Ketua DPRD Kota Depok Yeti Wulandari mengatakan, perubahan lokasi tersebut berkaitan dengan kondisi kualitas air di Situ Rawa Besar yang perlu mendapat perhatian.
Menurut Yeti, terdapat dugaan pencemaran akibat buangan dari fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit atau klinik, yang masuk ke kawasan situ. Kondisi itu membuat pelaksanaan kegiatan olahraga air di lokasi tersebut perlu dipertimbangkan kembali.
"Selain untuk melakukan bersih-bersih di situ, juga untuk melihat destinasi air di situ lainnya yang ada di Kota Depok. Maka pergelaran tahun ini digelar di Situ Rawa Kalong," ujar Yeti.
Persoalan tersebut sekaligus membuka kembali perhatian terhadap keberadaan situ sebagai bagian penting dari ekosistem Kota Depok.
Yeti menyebut, saat ini terdapat sekitar 23 situ di Kota Depok. Keberadaan situ tidak hanya berkaitan dengan aktivitas rekreasi dan olahraga, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam tata kelola air.
Situ menjadi salah satu sumber air dan memiliki peran sebagai tempat penampungan air ketika musim hujan. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk dalam menghadapi kondisi musim kemarau.
Festival Perahu Naga akhirnya menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Di atas permukaan Situ Rawa Kalong, para atlet mengejar catatan waktu terbaik. Di sekelilingnya, masyarakat menikmati keramaian, pelaku UMKM memperoleh ruang usaha, sementara pemerintah kembali diingatkan bahwa situ bukan sekadar hamparan air.
Dikatakan,melalui olahraga, pariwisata, dan kegiatan masyarakat, pemerintah berharap keberadaan situ semakin dikenal sekaligus mendorong kepedulian untuk merawatnya.
Supian Suri pun memastikan evaluasi akan terus dilakukan agar Festival Perahu Naga dapat berkembang dari tahun ke tahun.
"Kita akan terus evaluasi program ini. Ini secara rutin sudah kita laksanakan, sudah tahun ke-9 berjalan. Mudah-mudahan di tahun-tahun berikutnya kita bisa terus tingkatkan, mengundang lebih banyak dari provinsi lain," ujarnya.
Jika target itu terwujud, bukan tidak mungkin Festival Perahu Naga Depok akan menjadi agenda olahraga air yang semakin besar. Bukan hanya mempertemukan para atlet dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi panggung bagi Kota Depok untuk menunjukkan bahwa olahraga dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan, pariwisata, dan penggerakan ekonomi masyarakat.(wis).

.jpg)

0 Komentar