Riwayat Kerajaan Salakanagara memang berselimut misteri yang cukup pekat. Tak hanya soal mitos Argyre, hal-hal lain terkait kerajaan yang didirikan pada 130 M –tepat 20 tahun sebelum Ptolemaeus menerbitkan Geographia– ini masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti dan pakar sejarah.

Perdebatan yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa Salakanagara merupakan kerajaan tertua di Nusantara (Halwany Michrob, dkk., Catatan Masa Lalu Banten, 1993:33). Sementara yang lebih umum diketahui tentang kerajaan paling awal di kepulauan ini adalah Kutai Martadipura di Kalimantan Timur.

Jika dilihat dari waktu berdirinya, Salakanagara yang sudah eksis sejak abad ke-2 jelas lebih tua ketimbang Kutai yang baru muncul pada abad ke-4 M. Namun, yang melemahkan klaim Salakanagara adalah bukti fisik terkait asal-muasal kerajaan ini sangat minim. Berbeda dengan riwayat Kutai yang dilacak melalui penemuan sejumlah prasasti.

Jika dilihat dari waktu berdirinya, Salakanagara yang sudah eksis sejak abad ke-2 jelas lebih tua ketimbang Kutai yang baru muncul pada abad ke-4 M.
Claudius Ptolemaeus pernah menyebut suatu tempat bernama Argyre dalam bukunya, Geographia, yang ditulis kira-kira tahun 150 Masehi. Argyre, menurut ilmuwan Yunani itu, berada di dunia timur yang sangat jauh, tepatnya di bagian barat sebuah pulau bernama Iabodio. Penyebutan pulau ini kemudian dikait-kaitkan dengan istilah Yawadwipa alias Jawa.

Dalam bahasa Yunani, argyre berarti “perak”. Pada sekitar periode ketika Ptolemaeus merilis Geographia, berdirilah kerajaan bernama Salakanagara di bagian barat Jawa (Edi Suhardi Ekajati, Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran, 2005:55). Salaka, dalam bahasa Sunda, artinya “perak”. Lantas, apakah  Argyre yang dimaksud Ptolemaeus adalah Kerajaan Salakanagara?