Ustadz Andi Baldewi Mensyukuri "Bonus Umur":
PantauTerkino.com,Bogor – Aula Kantor RRI di Jalan Pangrango No. 34, Kota Bogor, Sabtu (11/4/2026) siang itu menyimpan cerita berbeda. Bukan gelombang suara siaran atau musik yang menggema, melainkan tawa lepas dan hangatnya pelukan rindu yang menyelimuti ruangan. Puluhan pensiunan RRI Bogor berkumpul dalam acara Halal Bihalal, merayakan sebuah anugerah terindah yang mereka sebut sebagai "bonus umur".
Foto Bersamaa para Pensiunan RRI Bogor bersama Ustadz Andi baldewi.Acara dibuka dengan tausiah yang menyentuh hati dari Ustadz Andi Baldwi. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan para hadirin untuk selalu mensyukuri setiap detik kehidupan yang diberikan Tuhan.
“Kita beruntung masih diberi kesempatan bersilaturahmi seperti saat ini. Nabi kita sendiri berusia 63 tahun. Kalau kita yang berada di sini masih diberi umur melewati itu, wajiblah kita bersyukur,” ujar Ustadz Andi, meneduhkan hati seluruh yang hadir.
Kata-kata itu terasa sangat dalam bagi para tamu undangan. Mereka adalah para veteran penyiaran yang sebagian besar telah mengabdikan hidupnya selama 30 hingga 34 tahun untuk RRI. Jejak pengabdian mereka bukan hanya di Bogor, namun juga tersebar dari Sabang sampai Merauke—mulai dari Ende, Madiun, Mamuju, hingga Aceh dan Jambi. Ada yang dulu berperan sebagai jurnalis, teknisi handal, hingga penyiar yang suaranya tak asing di telinga pendengar setia.
Ketua Pensiunan RRI Bogor, Muhammad Nurdin, mengaku pertemuan ini adalah "obat rindu" yang paling ditunggu. Suaranya bergetar saat menyampaikan rasa bahagianya bisa kembali bertatap muka dengan rekan-rekan seperjuangan.
“Dengan kumpul seperti ini kita jadi lebih guyub dan rukun. Rasanya senang sekali bisa bertatap muka lagi. Semoga Allah bukakan pintu maaf, murah rezeki, dan panjang umur buat kita semua,” harapnya.
Berbeda dengan acara perayaan lainnya, Halal Bihalal kali ini berlangsung sangat khidmat dan sederhana. Tanpa alunan musik, suasana dipenuhi doa, tausiah, dan keakraban saat makan siang bersama. Namun, justru di kesederhanaan itulah kehangatan terasa begitu nyata.
Kenangan masa lalu seolah kembali hadir. Cerita tentang siaran tengah malam, perjuangan memperbaiki pemancar yang rewel, hingga ketegangan saat meliput bencana alam, menjadi obrolan yang memicu tawa dan haru. Mereka tertawa mengenang masa muda yang dihabiskan di balik mikrofon dan perangkat analog.
“Pertemuan ini bukan cuma silaturahmi, tapi juga membuka pintu rezeki, membuat hati lebih gembira dan ceria,” tegas Ustadz Andi Baldawi.
Menjelang sore, satu per satu mereka berpamitan. Wajah-wajah yang kini mulai berkeriput itu saling berpelukan erat, berjanji untuk bertemu lagi tahun depan. Di era siaran digital yang serba canggih ini, mereka mungkin sudah resmi purna tugas. Namun, ikatan batin para abdi RRI terbukti tak pernah padam.
Seperti gelombang radio yang terus mengudara, persaudaraan dan kenangan mereka tetap menyala, disebarluaskan lewat doa dan hangatnya silaturahmi.(wismo).






0 Komentar