Pantauterkini – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat
kembali memperkuat pengawasan penyiaran publik melalui program PATALI. Kali
ini, KPID Jabar menggelar Bimbingan Teknis bertema “Etika di Tengah Krisis:
Penguatan Regulasi Penyiaran dalam Liputan Bencana” di Oproom Pemda Kota
Sukabumi Jawa Barat, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan beragam unsur
strategis, mulai dari Jurnalis Mahasiswa Universitas Nusa Putra, Persatuan
Wartawan Indonesia Kota dan Kabupaten Sukabumi, hingga Ikatan Jurnalis Televisi
Indonesia Sukabumi Raya. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan bahwa isu
kebencanaan dan etika penyiaran adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya
media.
PATALI atau Pengawasan Semesta yang Lestari
dan Independen merupakan program unggulan KPID Jabar untuk membangun ekosistem
penyiaran digital yang sehat, edukatif, dan berpihak pada kepentingan publik.
Melalui program ini, KPID rutin menggelar bimtek regulasi, talkshow, dan Rapat
Dengar Pendapat Ahli bersama lembaga penyiaran diberbagai daerah Jawa Barat.
Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet,
menyebut bimtek di Sukabumi bertujuan membangun kesadaran kolektif tentang
pentingnya kepedulian lingkungan dan mitigasi bencana.
“Upaya ini tidak bisa hanya dibebankan ke
pemerintah atau lembaga penyiaran. Televisi, radio, humas pemerintah,
mahasiswa, organisasi kepemudaan, sampai organisasi masyarakat harus terlibat,”
ujar Adiyana.
Ia mengingatkan, tugas media sudah jelas
diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan Pedoman Perilaku
Penyiaran serta Standar Program Siaran. Salah satu fungsinya adalah mendorong
pelestarian lingkungan dan menyebarkan informasi kebencanaan secara benar dan
akurat.
Adiyana menegaskan, media tidak boleh
menyesatkan publik, apalagi saat situasi krisis. Prinsip etika jurnalistik
harus tetap dijaga dalam peliputan bencana.
“Jangan eksploitasi korban demi visual atau
sensasi. Anak-anak korban juga jangan diwawancarai sembarangan. Keberimbangan
informasi tetap harus dijaga,” tegasnya.
Menurutnya, regulasi penyiaran bukan
sekadar aturan teknis, tapi juga menyangkut nilai sosial dan budaya. Ia
menyinggung filosofi Sunda yang mengajarkan manusia menjaga hubungan dengan
Tuhan, sesama, dan alam.
“Kepedulian terhadap lingkungan jangan
hanya lahir karena regulasi. Harusnya tumbuh dari kesadaran budaya dan nilai
kehidupan masyarakat,” katanya.
Praktisi media Ganang Widianto menambahkan,
wartawan dituntut cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi juga harus punya
sensitivitas sosial terhadap korban.
“Jurnalisme bukan hanya soal mengejar
berita. Ada tanggung jawab kemanusiaan di sana. Informasi yang disampaikan
harus bisa membantu masyarakat dan mendorong solidaritas sosial,” jelas Ganang.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan
jurnalisme filantropi sebagai solusi di tengah tantangan industri pers. Model
ini didukung dana hibah dari yayasan nirlaba, organisasi filantropi, dan donor
individu agar jurnalisme investigasi dan pemberitaan independen tetap hidup.
Melalui kegiatan ini, KPID Jabar berharap
lahir kesadaran bahwa peliputan bencana bukan soal kecepatan semata. Yang lebih
penting adalah tanggung jawab etik, keberpihakan pada korban, dan upaya
membangun budaya sadar lingkungan serta mitigasi bencana di masyarakat.
Editor :
Usep





0 Komentar